Jumat, 05 April 2013

tumbuh kembang dewasa


BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Masa dewasa awal dan tengah adalah periode yang penuh tantangan, penghargaan dan krisis. Tantangan ini meliputi tuntutan kerja dan membentuk keluarga, meskipun orang dewasa juga dapat diberi penghargaan karena kesuksesan karier mereka dan kehidupan pribadi mereka. Orang dewasa juga menghadapi krisis seperti merawat orang tua mereka yang telah lanjut usia. Kemungkinan kehilangan pekerjaan dengan berubahnya lingkungan ekonomi dan menghadapi kebutuhan perkembangan mereka sendiri seperti juga kebutuhan anggota keluarga mereka.
Perkembangan kedewasaan mencakup perubahan yang teratur dalam karakter dan sikap. Perubahan perkembangan berdasarkan karakter awal yang membantu membentuk perilaku dan karakteristik selanjutnya. Perkembangan setiap orang, bagaimana pun, merupakan sebuah proses yang unik (Haber et al, 1992). Perubahan itu dialami oleh dewasa awal termasuk proses alami maturasi dan sosialisasi. Dewasa awal melewati periode pergantian stabilitas dan perubahan. Selama masa periode stabilitas, mereka membuat beberapa pilihan dan membangun struktur di sekeliling mereka. Dalam periode perubahan, mereka mengevaluasi kembali pilihan ini dan mempertimbangkan alternative baru (Erikson, 1968, 1982).
Masa dewasa awal adalah masa periode antara remaja akhir dan pertengahan sampai akhir 30-an (Edelman and Mandle, 1994). Dewasa awal kira-kira 26% dari populasi. Selama masa dewasa awal, individu semakin terpisah dari keluarga asal mereka, membangun tujuan karier dan memutuskan apakah akan menikah dan memulai sebuah keluarga atau tetap sendiri. Dewasa awal usia aktif dan harus beradaptasi dengan pengalaman baru. Transisi menjadi ke usia pertengahan terjadi ketika orang muda menjadi sadar bahwa perubahan dalam kemampuan reproduksi dan fisik menandakan dimulainya tahap yang lain dalam kehidupan. Usia baya adalah waktu transisi lanjutan ketika individu memperhitungkan tujuan hidupnya dan menambahkan tujuan baru. Pada tahun 1990, hamper 84 juta orang di A.S berusia antara 35 dan 64, atau kira-kira 34% dari populasi A.S adalah dewasa usia baya (US. Dept. of commerce 1992)
1.2  Rumusan Masalah
a.       Jelaskan defenisi masa dewasa ?
b.      Jelasakan periode masa perkembangan baik dari perkembangan dewasa muda, dewasa menengah, dewasa tua ?
1.3  Tujuan Masalah
a.       Memahami definisi masa dewasa
b.      Memahami periode masa perkembangan baik dari perkembangan dewasa muda, dewasa menengah, dewasa tua
1.4  Manfaat Penulisan
Dengan adanya makalah ini penulis berharap bisa membantu mahasiswa, khususnya mahasiswa Fakultas Keperawatan Universitas Andalas memahami Mengenai Pertumbuhan dan Perkembangan Masa Dewasa Awal, Menengah, dan Tua, para mahasiswa pun diharapkan dapat menerapkannya dalam asuhan keperawatan yang lebih baik sesuai dengan profesinya sebagai perawat.













BAB II
PEMBAHASAN
Dewasa awal adalah masa peralihan dari masa remaja. Masa remaja yang ditandai dengan pencarian identitas diri, pada masa dewasa awal, identitas diri ini didapat sedikit-demi sedikit sesuai dengan umur kronologis dan mental ege-nya.
Berbagai masalah juga muncul dengan bertambahnya umur pada masa dewasa awal. Dewasa awal adalah masa peralihan dari ketergantungan kemasa mandiri, baik dari segi ekonomi, kebebasan menentukan diri sendiri, dan pandangan tentang masa depan sudah lebih realistis.
Seseorang dikatakan mencapai maturasi ketika mereka sudah mencapai keseimbangan pertumbuhan fisikologis, psikososial, dan kognitif. Individu yang matur merasa nyaman dengan kemampuan, pengetahuan, dan respons yang telah mereka kembangkan selama bertahun-tahun. Mereka melihat dunia dengan pandangan yang luas, bardasarkan paduan penglihatan, emosi, dan imajinasi. Mereka menghadapi masalah yang dapat dipecahkan tetapi menganali dan belajar untuk hidup dengan masalah yang tidak terpecahkan.
2.1 Definisi Masa Dewasa
a.       Sisi Biologis.
Suatu periode dalam kehidupan individu yang ditandai dengan pencapaian kematangan tubuh secara optimal dan kesiapan bereproduksi (berketurunan).
b.      Sisi Psikologis.
Periode dalam kehidupan individu yang ditandai dengan ciri-ciri kedewasaan atau kematangan, diantaranya : emotional stability, sense of reality, tidak menyalahkan orang lain jika menghadapi kegagalan,  toleransi dan optimistis.

c.       Sisi Pedagogis.
Suatu periode dalam kehidupan yang ditandai dengan :
o  Sense of responsibility
o  Prilaku normatif (nilai-nilai agama)
o  Memiliki pekerjaan untuk penghidupan
o  Berpartisipasi aktif dalam bermasyarakat
2.2  Periode Perkembangan Masa Dewasa
2.2.1 Dewasa Muda
a.    Teori mengenai Dewasa Muda
  • Kenniston (Santrock dalam Chusaini, 1995: 73).
Masa dewasa awal adalah masa muda yang merupakan periode transisi antara masa dewasa dan masa remaja yang merupakan masa perpanjangan kondisi ekonomi dan pribadi sementara, hal ini ditunjukkan oleh kemandirian ekonomi dan kemandirian membuat keputusan.
  • Lerner (1983 :  554).
Fase dewasa awal adalah suatu fase dalam siklus kehidupan yang berbeda dengan fase-fase sebelum dan sesudahnya, karena merupakan fase usia untuk membuat suatu komitmen pada diri individu.
  • Erikson (1959, 1963).
Fase usia dewasa awal merupakan kebutuhan untuk membuat komitmen dengan menciptakan suatu hubungan interpersonal yang erat dan stabil serta mampu mengaktualisasikan diri seutuhnya untuk mempertahankan hubungan tersebut.

b.    Aspek-aspek Perkembangan Dewasa Awal.
Aspek-aspek perkembangan yang dihadapi usia mahasiswa sebagai fase usia dewasa awal (Santrock, 1995 : 91-100) adalah:
  1. Perkembangan fisik. Pada fase dewasa awal adalah puncak perkembangan fisik dan juga penurunan perkembangan individu secara fisik.
  2. Perkembangan seksualitas. Terjadi sikap dan prilaku seksual secara heteroseksual dan homoseksual.
  3. Perkembangan kogitif. Menggambarkan efisiensi dalam memperoleh informasi yang baru, berubah dari mencari pengetahuan menuju menerapkan pengetahuan itu (Schaise, 1997).
  4. Perkembangan karir. Suatu individu ketika memulai dunia kerja yang baru harus menyesuaikan diri dengan peran yang baru dan memenuhi tuntutan karir (Heise, 1991 ; Smither, 1998).
  5. Perkembangan sosio-emosional. Menggambarkan hubungan sosial individu dengan lingkungannya yang terdiri dari 3 fase yaitu fase pertama (menjadi dewasa dan hidup mandiri), fase kedua (pasangan baru yang membentuk keluarga baru (Goldrick, 1989), dan fase ketiga (menjadi keluarga sebagai orang tua dan memiliki anak).
c. Ciri Perkembangan Dewasa Awal
Dewasa awal adalah masa kematangan fisik dan psikologis. Menurut Anderson (dalam Mappiare : 17) terdapat 7 ciri kematangan psikologi, ringkasnya sebagai berikut: 
  1. Berorientasi pada tugas, bukan pada diri atau ego; minat orang matang berorientasi pada tugas-tugas yang dikerjakannya,dan tidak condong pada perasaan-perasaan diri sendri atau untuk kepentingan pribadi. 
  2. Tujuan-tujuan yang jelas dan kebiasaan-kebiasaan kerja yang efesien; seseorang yang matang melihat tujuan-tujuan yang ingin dicapainya secara jelas dan tujuan-tujuan itu dapat didefenisikannya secara cermat dan tahu mana pantas dan tidak serta bekerja secara terbimbing menuju arahnya. 
  3. Mengendalikan perasaan pribadi; seseorang yang matang dapat menyetir perasaan-perasaan sendiri dan tidak dikuasai oleh perasaan-perasaannya dalam mengerjakan sesuatu atau berhadapan dengan orang lain. Dia tidak mementingkan dirinya sendiri, tetapi mempertimbangkan pula perasaan-perasaan orang lain. 
  4. Keobjektifan; orang matang memiliki sikap objektif yaitu berusaha mencapai keputusan dalam keadaan yang bersesuaian dengan kenyataan. 
  5. Menerima kritik dan saran; orang matang memiliki kemauan yang realistis, paham bahwa dirinya tidak selalu benar, sehingga terbuka terhadap kritik-kritik dan saran-saran orang lain demi peningkatan dirinya. 
  6. Pertanggungjawaban terhadap usaha-usaha pribadi; orang yang matang mau memberi kesempatan pada orang lain membantu usahan-usahanya untuk mencapai tujuan. Secara realistis diakuinya bahwa beberapa hal tentang usahanya tidak selalu dapat dinilainya secara sungguh-sunguh, sehingga untuk itu dia bantuan orang lain, tetapi tetap dia brtanggungjawab secara pribadi terhadap usaha-usahanya.
  7. Penyesuaian yang realistis terhadap situasi-situasi baru; orang matang memiliki cirri fleksibel dan dapat menempatkan diri dengan kenyataan-kenyataan yang dihadapinya dengan situasi-situasi baru
d.   Perkembangan pada masa Dewasa Muda
Perkembangan Fisik
Individu berada pada kondisi fisik yang prima di awal usia 20-an. Sistem musculoskeletal berkembang dengan baik dan terkoordinasi. Periode tersebut merupakan periode ketika kegemaran terhadap atletik mencapai puncaknya. Semua sistem lain pada tubuh (mis. kardiovaskular, penglihatan, pendengaran, dan reproduktif) juga berfungsi pada efisiensi puncak.
Meskipun perubahan fisik selama tahap ini minimal, berat badan dan massa otot dapat berubah akibat diet dan olahraga. Selain itu, perubahan fisik dan psikososial yang sangat besar dapat terjadi pada ibu hamil dan menyusui.
Perkembangan Psikososial
Bertolak belakang dengan perubahan fisik yang minimal, perkembangan psikososial pada masa dewasa muda justru besar, memuat perkembangan psikososial tersebut berdasarkan teori Freud, Erikson, dan Havighurst
Dewasa Muda :
1.         Berada pada tahap genital, yaitu ketika energy di arahkan untuk mencapai hubungan seksual yang matur, mengacu pada teori Freud.
2.         Berada pada fase keintiman versus isolasi tahap perkembangan Erikson
3.         Memiliki tugas perkembangan berikut, mengacu pada pemikiran Havighurst :
·                Memilih pasangan
·                Belajar untuk hidup bersama pasangan
·                Membentuk sebuah keluarga
·                Membesarkan anak
·                Mengatur rumah tangga
·                Memulai suatu pekerjaan
·                Memikul tanggung jawab sebagai warga Negara
·                Menemukan kelompok social yang cocok
Perkembangan Kognitif
Piaget meyakini bahwa struktur kognitif sempurna selama periode operasi formal, kurang lebih sejak usia 11-15 tahun. Sejak periode tersebut, operasi formal (sebagai contoh, membuat hipotesis) menandakan pemikiran selama masa dewasa dan diterapkan di lebih banyak area.
Egosentrisme terus berkurang namun, menurut Piaget, perubahan tersebut tidak disertai perubahan pada struktur pemikiran, hanya perubahan pada isi dan stabilitasnya saja.
Saat ini, para peneliti bidang psikologi telah mengemukakan bahwa tahap operasi formal Piaget bukan merupakan tahap terakhir perkembangan manusia. Beberapa peneliti telah mengajukan konsep pemikiran postformal (Stuart-Hamilton, 2000, hml. 84). Pemikiran postformal, terkadang disebut sebagai tahap penemuan masalah, ditandai dengan “pemikiran kreatif dalam bentuk penemuan masalah, pemikiran relativistic, formasi masalah generic, munculnya berbagai pertanyaan umum terhadap masalah yang kurang jelas, penggunaan intuisi, daya tarik diri, firasat, dan perkembangan pemikiran ilmiah yang signifikan” (Murray & Zentner, 2001, hml.663). di samping kemampuan remaja untuk berpikir abstrak, para pemikir postformal memiliki pemahaman tentang pengetahuan yang sementara atau relative. Mereka mampu memahami dan menyeimbangkan argument yang diciptakan oleh logika dan emosi.
Perkembangan Moral
Individu dewasa muda yang telah menguasai tahap sebelumnya pada teori perkembangan moral Kohlberg saat ini memasuki tingkat poskonvensional. Pada periode ini, individu mampu memisahkan diri dari pengharapan dan aturan-aturan orang lain, dan mendefinisikan moralitas terkait prinsip moral. Saat mempersepsikan konflik dengan norma dan hukum masyarakat, mereka membuat penilaian berdasarkan prinsip pribadi mereka. Sebagai contoh, individu yang sengaja melanggar hukum dan bergabung dalam kelompok protes untuk menghentikan aksi pembunuhan hewan liar oleh para pemburu, meyakini bahwa prinsip pelestarian margasatwa membenarkan aksi protes tersebut. Tipe pola piker ini disebut sebagai pola piker prinsip.
Perkembangan Spiritual
Menurut Fowler, individu memasuki periode reflektif-individual sekitar usia 18 tahun. Selama periode ini, individu berfokus pada realitas. Individu dewasa yang berusia 27 tahun dapat mengemukakan pertanyaan yang bersifat filosofi mengenai spiritualitas dan menyadari akan hal spiritual tersebut. Ajaran-ajaran agama yang diperoleh dewasa muda semasa kecil sekarang dapat diterima atau didefinisikan kembali.
Masalah Kesehatan
Masa dewasa muda umumnya merupakan masa sehat dalam hidup. Masalah kesehatan yang muncul dan sering kali ditemui pada kelompok usia ini meliputi kecelakaan, bunuh diri, penyalahgunaan zat, hipertensi, penyakit menular seks (PMS), penganiayaan terhadap wanita, dan keganasan tertentu.
2.2.2        Masa Dewasa Madya/Setengah Baya (Midle Age = 40 – 60 tahun).
a.    Teori Masa Dewasa Tengah
Teori Erikson
Menurut teori perkembangan Erikson, tugas perkembangan yang utama pada usia baya adalah mencapai generativitas (Erikson, 1968, 1982). Generativitas adalah keinginan untuk merawat dan membimbing orang lain. Dewasa tengah dapat mencapai generativitas dengan anak-anaknya atau anak-anak sahabatnya atau melalui bimbingan dalam interaksi social dengan generasi berikutnya. Jika dewasa tengah gagal mencapai generativitas, akan terjadi stagnasi. Hal ini ditunjukakan dengan perhatian yang berlebihan pada dirinya atau perilaku merusak terhadap anak-anaknya dan masyarakat.
Teori Havighurst
Teori perkembangan Havighurst telah diringkas dalam 7 tugas perkembangan untuk orang dewasa tengah (Havighurst, 1972). Tugas perkembangan ini meliputi pencapaian tanggung jawab sosial orang dewasa, menetapkan dan mempertahankan standar kehidupan, membantu anak-anak remaja menjadi orang dewasa yang bertanggung jawab dan bahagia, mengembangkan aktivitas luang, berhubungan dengan pasangannya sebagai individu, menerima dan menyesuaikan perubahan fisiologis pada usia pertengahan, dan menyesuaikan diri dengan orang tua yang telah lansia. Lansia merupakan tantangan unik bagi dewasa tengah dalam masyarakat masa kini. Sementara kebanyakan dewasa lansia tetap dapat berfungsi secara mandiri, pertambahan usia meningkatkan kebutuhan terhadap bantuan ( Fawcett, 1993). Perceraian dan meningkatnya pengasuhan anak oleh wanita sendiri telah meningkatkan prevalensi keluarga dengan orang tua tunggal, dan perubahan dalam struktur keluarga ini dapat menyulitkan pemberian perawatan bagi orang tua lansia oleh dewasa tengah pada generasi masa kini.
b.    Perkembangan pada Masa Dewasa Tengah
Perkembangan Fisik
Perubahan fisiologis utama terjadi antara usia 40-65, perubahan yang paling terlihat adalah rambut beruban, kulit mengerut dan pinggang membesar. Kobotakan biasanya mulai terjadi selama masa usia pertengahan, tetapi juga dapat terjadi pada pria dewasa awal. Penurunan ketajaman penglihatan dan pendengaran sering terlihat selama periode ini.
Sering kali perubahan fisiologis ini mempunyai dampak pada konsep-diri dan citra tubuh. Perubahan fisiologis yang paling signifikan selama usia pertengahan adalah menopause pada wanita dan klimakterik pada pria. Menopause adalah terhentinya siklus ini terutama karena ketidakmampuan system neurohmoral untuk mempertahankan stimulasi periodiknya pada system endokrin. Ovarium tidak lagi memproduksi estrogen dan progesterone, dan kadar hormone ini dalam darah menurun secara nyata. Menopause secara nyata terjadi antara usia 45 dan 65 tahun. Kira-kira 10% wanita tidak mengalami gejala menopause lain selain berhentinya menstruasi, 70% sampai 80% menyadari perubahan lain tapi tidak bermasalah dan kira-kira 10% mengalami perubahan cukup berat sehingga mengganggu aktivitas kehidupan sehari-hari (Edge dan Miller, 1994). Klimakterik atau andropause, terjadi pada pria usia akhir 40-an atau awal 50-an. Hal tersebut disebabkan oleh menurunnya kadar endrogen. Sepanjang periode dan sesudah itu, pria masih mampu memproduksi sperma fertile dan menjadi ayah. Akan tetapi ereksi penis kurang kuat, ejakulasi kurang sering dan periode refraksi lebih lama.


Perkembangan Psikososial
Perubahan psikososial pada dewasa tengah dapat meliputi kejadian yang diharapkan, perpindahan anak dari rumah, atau peristiwa perpisahan dalam pernikahan atau kematian teman. Perubahan ini mungkin mengakibatkan stress yang dapat mempengaruhi seluruh tingkat kesehatan dewasa tengah.
Pada masa dewasa tengah, seiring anak-anak meninggalkan rumahnya, keluarga memasuki tahap keluarga pascaparental. Tuntutan waktu dan financial pada orang tua berkurang, dan pasangan menghadapi tugas menetapkan kembali hubungan mereka. Meskipun, tidak harus menunggu sampai tahap kehidupan ini untuk memikirkan peningkatan kesehatan, “lebih baik terlambat dari pada tidak” memang berlaku. Kebutuhan pengkajian peningkatan kesehatan bagi dewasa tengah meliputi istirahat ytang adekuat, aktivitas luang, latihan yang teratur, nutrisi yang baik, penurunan atau penghentian penggunaan rokok atau alcohol, serta pemeriksaan skrining yang teratur. Pengkajian lingkungan social pada dewasa tengah juga penting, termasuk masalah hubungan, komunikasi dan hubungan dengan anak, cucu dan orang tua lansia, dan masalah pemberian perawatan dengan penuaan atau orang tua yang sudah tidak mampu.
Perkembangan Kognitif
Kemampuan kognitif dan intelektual dimasa paruh baya tidak banyak mengalami perubahan. Proses kognitif meliputi waktu reaksi, memori, persepsi, pembelajaran, pemecahan masalah, dan kreativitas. Waktu reaksi selama periode ini hampir berubah atau menjadi berkurang di bagian akhir usia paruh baya. Memori dan kemampuan memecahkan masalah tetap sama selama masa paruh baya. Proses belajar terus berlanjut dan dapat dikembangkan dengan motivasi yang kian meningkat di masa kini.
Individu paruh baya mampu menjalankan semua strategi yang dijelaskan pada fase operasi formal Piaget. Sebagian individu mungkin menggunakan strategi fase operasi postformal untuk membantu mereka memahami kontradiksi yang ada pada aspek personal maupun aspek fisik realitas. Pengalaman professional, social, dan kehidupan pribadi individu paruh baya akan tercermin dalam performa kognitif mereka. Dengan demikian, pendekatan yang diambil untuk memecahkan masalah serta menyelesaikan tugas akan sangat bervariasi pada kelompok usia tersebut. Individu paruh baya dapat “bercermin pada pengalaman masa lalu dan masa kini dan dapat membayangkan, mengantisipasi, berencana dan berharap” (Murray dan Zentner, 2001, hlm.722).
Perkembangan Moral
Menurut Kohlberg, individu dewasa dapat bergerak melewati tingkat konvensial menuju tingkat postkonvensional. Kohlberg meyakini bahwa sebelum mampu mencapai tingkat postkonvensional yang luas tentang pilihan moral personal serta tanggung jawab. Kohlberg menyadari bahwa sebagian subyek penelitiannya mencapai tingkat pemikiran moral tinggi. Untuk beralih dari tahap 4, yakni orientasi hukum dan tata tertib, menuju tahap 5, orientasi kontrak social, individu harus beralih menuju tahap ketika hak orang lain lebih diutamakan. Individu pada tahap 5 mengambil langkah untuk mendukung hak orang lain.
Perkembangan Spiritual
Tidak semua individu dewasa berproses menuju tahap kelima perkembangan spiritual Fowler, yakni tanpa paradoksikal-konsolidatif. Pada tahap ini, individu dapat memandang kebenaran dari sejumlah sudut pandang. Tahap kelima Fowler ini sangat mirip dengan tahap kelima perkembangan kognitif Kohlberg. Fowler meyakini bahwa hanya beberapa individu di atas usia 30 tahun yang mencapai tahap tersebut.
Di usia paruh baya, individu cenderung tidak terlalu fanatic terhadap keyakinan agama, dan agama sering kali memberikan lebih banyak kenyamanan pada diri individu dimasa ini dibandingkan sebelumnya. Individu di kelompok usia ini kerap kali bergantung pada keyakinan spiritual untuk membantu mereka menghadapi penyakit, kematian, dan tragedi.

Masalah Kesehatan
Banyak individu paruh baya yang tetap sehat, namun resiko munculnya masalah kesehatan pada kelompok usia ini lebih besar daripada kelompok usia dewasa muda. Penyebab utama kamatian pada kelompok usian ini meliputi kecelakaan kendaraan bermotor, dan kecelakaan di tempat kerja, penyakit kronis seperti kanker dan penyakit kardiovaskular. Pola gaya hidup individu yang berkombinasi dengan penuaan, riwayat keluarga, dan stressor perkembangan (mis. Menopause, klimakterik) serta stressor situasional (mis, perceraian) sering kali berkaitan dengan masalah kesehatan yang muncul. Sebagai contoh, merokok dan mengkonsumsi alcohol secara berlebihan menyebabkan individu beresiko lebih tinggi mengalami masalah pernafasan kronis, kanker paru, dan penyakit hati. Pola makan berlebih dapat menyebabkan obesitas, diabetes mellitus, aterosklerosis, dan resiko hipertensi serta penyakit arteri koroner yang berkaitan dengan kondisi tersebut.
2.2.3        Masa Dewasa Lanjut / Masa Tua (Old Age = 60 –  Mati).
Pada tingkat kedewasaan menengah (40-65 th) manusia mencapai puncak periode usia yang paling produktif . Lanjut usia merupakan istilah tahap akhir dari proses penuaan.  Secara biologis penduduk lanjut usia adalah penduduk yang mengalami proses penuaan secara terus menerus, yang ditandai dengan menurunnya daya tahan fisik yaitu semakin rentannya terhadap serangan penyakit yang dapat menyebabkan kematian. Hal ini disebabkan terjadinya perubahan dalam struktur dan fungsi sel, jaringan, serta sistem organ.
a.    Teori pada Masa Dewasa Tua
Teori radikal Bebas
Radikal bebas adalah produk metabolism selular yang merupakan bagian molekul yang sangat reaktif. Molekul ini memiliki muatan ekstraselular kuat yang dapat menciptakan reaksi dengan protein, mengubah bentuk dan sifatnya, molekul ini juga dapat bereaksi dengan lipid yang berada dalam membran sel, mempengaruhi permeabilitasnya, atau dapat berikatan dengan organel sel (Christiansen dan Grzybowski, 1993).
Proses metabolisme oksigen diperkirakan menjadi sumber radikal bebas tersebar (Hayflick, 1987), secara spesifik, oksidasi lemak, protein dan karbohidrat dalam tubuh menyebabkan formasi radikal bebas. Polutan lingkungan merupakan sumber eksternal radikal bebas (Ebersole dan Hess, 1994). Teori ini menyatakan bahwa penuaan disebabkan akumulasi kerusakan ireversibel akibat senyawa pengoksidasi ini. Penilitan tentang peran radikal bebas dalam penuaan sedang dilakukan. Sebagai hasilnya, terdapat minat yang besar penggunaan vitamin seperti A, C, E dan niasin pada masa kini untuk menetralkan efek radikal bebas dan memperpanjang hidup.
Teori Imunologis
Beberapa teori menyatakan bahwa penurunan atau perubahan dalam keefktifan system imun berperan dalam penuaan. Mekanisme selular tidak tak-teratur diperkirakan menyebabkan serangan pada jaringan tubuh melalui autoagresi atau imunodefisiensi (penurunan imun) (Ebersole dan Hess, 1994).tubuh kehilangan kemampuan untuk membedakan proteinnya sendiri dengan protein asing, system imun menyerang dan menghancurkan jaringannya sendiri pada kecepatan yang meningkat secara bertahap.
Dengan bertambahnya usia, kemampuan system imun untuk menghancurkan bakteri, virus, dan jamur melemah bahkan sistem ini mungkin tidak memulai serangannya sehingga sel mutasi terbentuk beberapa kali. Destruksi bagian jaringan yang luas dapat terjadi sebelum respons imun dimulai. Disfungsi system imun ini doperkirakan menjadi factor dalam perkembangan penyakit kronis seperti kanker, diabetes, dan penyakit kardiovaskular, serta infeksi.
b.    Pertumbuhan dan Perkembangan Masa Dewasa Tua
Seiring tahap kehidupan lain, lansia memiliki tugas perkembangan khusus. Hal ini dideskripsikan oleh Burnside (1979), Duvall (1977), dan Havighurst (1953).

Tugas Perkembangan Lansia :
Usia 65-75 tahun
Ø  Menyesuaikan terhadap penurunan kekuatan fisik dan kesehatan
Ø  Menyesuaikan terhadap masa pensiun dan penurunan atau penetapan pendapatan
Ø  Menyesuaikan terhadap kematian pasangan
Ø  Menerima diri sendiri sebagai individu lansia
Ø  Mempertahankan kepuasan pengaturan hidup
Ø  Mendefinisikan ulang hubungan dengan anak yang dewasa
Ø  Menemukan cara untuk mempertahankan kualitas hidup
Usia 75 tahun atau lebih
Ø  Beradaptasi dengan situasi “hidup sendiri”
Ø  Menjaga kesehatan fisik dan mental
Ø  Menyesuaikan diri dengan kemungkinan tinggal di panti jompo
Ø  Tetap berhubungan dengan anggota keluarga lain
Ø  Menemukan makna hidup
Ø  Mengurus akan kematiannya kelak
Ø  Tetap aktif dan terlibat dalam aktivitas
Ø  Membuat perencanaan hidup yang memuaskan seiring penuaan
Perkembangan Psikososial
Beberapa teori menjelasakan penuaan psikososial. Menurut teori pemisahan, penuaan meliputi menarik diri antara individu lansia dan orang lain di lingkungan tempat tinggal lansia. Perilaku menarik diri ini membebaska lamsia dari sejumlah tekanan di masyarakat dan secara bertahap mengurangi jumlah orang yang berinteraksi dengan lansia. Menurut teori aktivitas, cara terbaik untuk lansia adalah dengan tetap aktif, baik secara fisik maupun mental. Sedangkan menurut teori kontinuitas, manusia akan tetap mempertahankan nilai-nilai, kebiasaan, dan perilakunya di usia lanjut. Seseorang yang terbiasa berkumpul bersama orang lain, akan terus melakukan hal yang sama di usia tuanya. Sedangkan orang yang tidak terbiasa berurusan dengan orang lain, cenderung untuk menarik diri.
   Menurut Erikson, tugas perkembangan di masa ini adalah integritas ego versus outus asa. Seseorang yang mencapai integritas ego memandang kehidupan dengan perasaan utuh dan meraih kepuasan dari keberhasilan yang dicapai dimasa lalu. Mereka memandang kematian sebagai akhir kehidupan yang dapat diterima. Dengan mengetahui bahwa perbedaan antara lansia-awal dan lansia-akhir tidak hanya terletak pada karakter fisik, tetapi juga pada respon psikososial, banyak orang mengalami kesulitan dengan tugas perkembangan tunggal Erikson. Peck (1968) mengemukakan tiga tugas perkembangan lansia berikut yang bertolak belakang dengan tuga perkembangan integritas versus putus asa Erikson :
1)      Ego differentiation versus work-role pre occupation
2)      Body transcendence versus body pre occupation
3)      Ego transcendence versus ego pre occupation
Perkembangan Kognitif
Fase perkembangan kognitif Piaget berakhir pada fase operasi formal. Namun, benyak penelitian tentang kemampuan kognitif dan penuaan saat ini tengah dikembangkan. Kapasitas intelektual meliputi persepsi, kecerdasan kognitif, memori, dan belajar.
     Persepsi, atau kemampuan untuk menginterpertasikan lingkungan, bergantung pada ketajaman indra. Jika lansia mengalami gangguan indra, kemampuannya dalam mempersepsikan lingkungan secara tepat juga berkurang. Perubahan pada system saraf juga memengaruhi kapasitas persepsi seseorang.
     Perubahan kemampuan kognitif yang terjadi pada lansia lebih kepada perbedaan kecepatan, bukan kemampuan. Secara keseluruhan lansia tetap cerdas, mampu memecahkan masalah, menilai, kreatif, dan memiliki berbagai keterampilan kognitif lain yang terlatih dengan baik. Penurunan intelektual umumnya mencerminkan proses penyakit, seperti aterosklerosis, yang menyebabkan penyempitan pembuluh darah dan penurunan perfusi nutrisi ke otak. Kebanyakan lansia tidak mengalami gangguan kognitif.
     Lansia memerlukan waktu yang lebih banyak dalam belajar. Kondisi ini umumnya disebabkan oleh masalah yang muncul dalam proses penarikan informasi. Motivasi juga tidak kalah penting. Lansia mengalami lebih banyak kesulitan disbanding individu yang lebih muda dalam mempelajari informasi yangmenurut mereka tidak begitu berarti. Lansia disarankan untuk tetap aktif secara mental guna mempertahankan kemampuan kognitif mereka pada tingkat optimal. Aktivitas mental yang bertahan lama, khususnya aktivitas verbal, membantu lansi dalam mempertahankan level fungsi kognitif yang tinggi, dan dapat membantu mempertahankan memori jangka panjang. Gangguan kognitif yang memengaruhi kehidupan normal bukan bagian dari proses penuaan normal. Penurunan kemampuan intelektual yang mengganggu fungsi social atau okupasi harus selalu dipandang sebagai kondisi yang tidak normal.
Perkembangan Moral
Menurut Kohlberg, perkembangan moral terselesaikan pada masa dewasa awal. Kebanyakan lansia berada pada tingkat konvensional perkembangan moral, sedangkan sebagian lain berada pada tingkat prakonvensional. Lansia yang berada pada tingkat prakonvensional mematuhi aturan agar tidak menyakiti atau menyusahkan orang lain. Pada tahap 1, individu mendefinisikan baik dan buruk dalam kaitannya dengan diri sendiri, sedangkan pada tahap 2, individu berupaya memenuhi kebutuhan orang lain sama seperti kebutuhan mereka sendiri. Lansia pada tingkat konvensional mengikuti kaidah social yang berlaku sebagai respons terhadap harapan orang lain.
Pola nilai serta keyakinan yang penting bagi lansia dapat memiliki makna yang kecil atau bahkan tak berarti bagi individu yang lebih muda. Hal ini terjadi karena lansia tumbuh pada masa yang jauh berbeda dengan saat ini. Selain itu, sebagian besar lansia yang ada saat ini adalah warga Negara yang lahir di luar negeri atau warga Negara generasi pertama. Latar belakang pengalaman hidup, gender, agama, dan kondisi social-ekonomi, kesemuanya memengaruhi nilai-nilai yang dianut seseorang.
Perkembangan Spiritual
Lansia dapat merenungkan berbagai pandangan baru yang religious serta mencoba memahami ide-ide yang sebelumnya terlupakan atau ditafsirkan dengan cara yang berbeda. Lansia juga merasa berharga dengan membagikan pengalamannya atau pandangannya. Sebaliknya, lansia yang belum matang secara spiritual dapat merasa tidak berdaya dan putus asa saat upayanya untuk mencapai kesuksesan ekonomi dan professional menurun.
Carson (1989) mengemukakan bahwa agama “memberikan makna baru bagi lansia, yang dapat memberikan kenyamanan, penghiburan dan penguatan dalam kegiatan keagamaan”. Pengetahuan yang dimiliki lansia berubah menjadi kebijaksanaan, yakni suatu sumber dalam diri yang berfungsi untuk menghadapi pengalaman hidup baik yang positif maupun negative. Keterlibatan lansia dalam hal keagamaan kerap membantu mereka dalam mengatasi masalah yang berkaitan dengan makna hidup, kesengsaraan, atau nasib baik. Menurut Fowler dan Keen (1985), sebagian orang memasuki tahap keenam perkembangan spiritual, yakni universalizing. Orang yang mencapai tingkat perkembangan spiritual tersebut berpikir dan bertindak dalam cara yang menunjukkan cinta dan keadilan.
Masalah Kesehatan
Masalah kesehatan yang mungkin dialami lansia meliputi kecelakaan, penyakit ketunadayaan kronis, penyalahgunaan dan penggunasalahan obat, alkoholisme, demensia, dan penganiayaan. Penyebab utama kematian pada individu yang berusia di atas 65 tahun adalah penyakit jantung, penyakit serebrovaskular (stroke), pneumonia/influenza, penyakit paru obstruktif, dan kanker.



BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
      Fase usia dewasa awal merupakan kebutuhan untuk membuat komitmen dengan menciptakan suatu hubungan interpersonal yang erat dan stabil serta mampu mengaktualisasikan diri seutuhnya untuk mempertahankan hubungan tersebut.
Menurut teori perkembangan Erikson, tugas perkembangan yang utama pada usia baya atau dewasa menengah adalah mencapai generativitas (Erikson, 1968, 1982). Generativitas adalah keinginan untuk merawat dan membimbing orang lain. Dewasa tengah dapat mencapai generativitas dengan anak-anaknya atau anak-anak sahabatnya atau melalui bimbingan dalam interaksi social dengan generasi berikutnya.
Lanjut usia merupakan istilah tahap akhir dari proses penuaan.  Secara biologis penduduk lanjut usia adalah penduduk yang mengalami proses penuaan secara terus menerus, yang ditandai dengan menurunnya daya tahan fisik yaitu semakin rentannya terhadap serangan penyakit yang dapat menyebabkan kematian. Hal ini disebabkan terjadinya perubahan dalam struktur dan fungsi sel, jaringan, serta sistem organ.
3.2 Saran
     Dari kesimpulan diatas penulis mengharapkan kepada pembaca dan calon  perawat bisa memahami tentang pertumbuhan dan perkembangaan khususnya dibahas disini mengenai Masa Dewasa Awal, Menengah, dan Tua diharapkan mahasiswa mampu memahami dan menerapkannya di lingkungan asuhan keperawatan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar